Gagasan

Teori Clausewitz Tentang Perang

Dibaca: 12 Oleh 15 Jan 2020Maret 2nd, 2020Tidak ada komentar
Teori Clausewitz Tentang Perang
#LuhutPandjaitan #LBP

LBP – Sewaktu saya kuliah di NDU (National Defence University) di Fort McNair, dekat Washington DC, kami melakukan diskusi panjang mengenai teori-teori strategi perang, salah satu diantaranya adalah pembahasan buku tulisan Carl von Clausewitz yang sangat terkenal yaitu “On War” (judul asliya “Vom Kriege”) yang tebalnya lebih dari 700 halaman.

Meskipun ditulis pada abad 19, tetapi teori-teorinya dianggap masih relevan hingga hari ini. Tidak seluruh isi buku tersebut saya telan, tetapi salah satu yang saya masih ingat adalah kalimat ini : War is merely the continuation of policy by other means, yang kemudian ditafsirkan oleh para pakar kebijakan politik menjadi : War is the continuation of diplomacy by other means. Perang adalah kelanjutan dari diplomasi dengan cara lain.

Dalam banyak kasus di dunia, perang memang merupakan alternatif terakhir setelah jalur diplomasi atau perundingan menemui jalan buntu. Jadi umumnya bukan perang dulu, baru berunding. Tahun 1962, Indonesia, umpamanya, serius mempersiapkan diri untuk menyerbu Irian Barat (sekarang Papua) dengan kekuatan militer penuh. Tetapi wilayah tersebut akhirnya kembali ke pangkuan RI setelah proses perundingan (proses diplomasi) antara Indonesia dengan Belanda. Tidak ada perang pecah antara keduanya.

Baca juga:  Indonesia sebagai "Surga-nya Investasi"

Walau demikian tentu saja ada perang yang dilakukan begitu saja tanpa melalui perundingan dan diplomasi, antara lain, sewaktu Adolf Hitler yang memulai menyerbu Ceko dan kemudian Polandia (1939) tanpa ada alasan jelas, atau penyerbuan Kuwait oleh Irak tahun 1990 yang kemudian menyulut terjadinya Perang Teluk.

Berdirinya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) setelah berakhirnya Perang Dunia 2 bertujuan mencegah meletusnya peperangan atau pertikaian bersenjata, karena semua pihak yang bersengketa diminta merundingkannya di forum PBB atau dibahas di Dewan Keamanan PBB hingga “cara lain” itu tidak sempat terjadi. Dan perdamaian tetap tegak.

Karena itulah saya termasuk yang sedih ketika ada situasi di Laut China Selatan, belum lama ini ada suara-suara yang mengusung kemungkinan pecah perang antara RI dengan Tiongkok, “demi kedalauatan NKRI”. Pemberitaan yang bermula dari informasi di media sosial tersebut kemudian menyulut kemarahan masyarakat karena ketidaklengkapan informasi itu atau ketidakfahaman mengenai beda antara ZEE dan laut teritori nasional. Yang muncul adalah kemarahan atau rasa ketersinggungan yang besar.

Baca juga:  Luhut Ingin Ilmuwan Muda RI di Luar Negeri Bantu Teknologi Nasional

Pada satu sisi saya maklum ini mencerminkan kuatnya nasionalisme masyarakat, tetapi tentu tidak semua perselisihan atau pelanggaran peraturan internasional harus berakhir dengan pecahnya perang. Perang atau “cara lain” itu tidak pernah menguntungkan siapapun, karena sesungguhnya tidak ada yang benar-benar memenangkan sebuah peperangan.

Lebih menyedihkan lagi ketika saya dan Menhan RI Prabowo Subianto mengeluarkan pernyataan yang bernada menyejukkan, kami di bully sebagai “penakut” dan malah ada koran yang menyindir karir dan korps saya di ketentaraan dulu yang sebenarnya tidak relevan dibandingkan. Saya sedih karena serangan tersebut masuk wilayah pribadi, dan melenceng dari pokok permasalahan. Apakah mereka tahu bahwa saya sebagai seorang prajurit pernah berperang dan pernah hampir mati karena perang?

Kunjungan satu hari Presiden Joko Widodo ke pulau Natuna Besar jelas mengirim pesan yang kuat. Pernyataan Pak Jokowi juga menjelaskan dengan nada sejuk apa yang sesungguhnya terjadi di laut di utara Natuna bukanlah pelanggaran wilayah teritori Indonesia.

Penjelasan Presiden tersebut efektif menurunkan tensi di dalam negeri tetapi sekaligus memberi isyarat halus kepada negara-negara lain. Menurut saya, ini bagian dari diplomasi yang canggih yang tidak menimbulkan ketersinggungan tapi memunculkan pengertian. Tanpa mengorbankan derajat dan harga diri bangsa.

Baca juga:  Menyambung Konektivitas Daerah

Intinya adalah, kita tidak pernah mengorbankan kedaulatan kita demi investasi asing (seperti kata pengamat), kita selalu melihat hubungan antar-negara dalam konteks yang pas dan yang penting, kita tentu berkaca pada diri sendiri, apa yang kurang dalam mengamankan perairan ZEE kita. Apakah karena kapal-kapal TNI-AL tidak cukup atau terlalu kecil, apakah berarti Bakamla (Badan Keamanan Laut, coast guard) kita tidak optimal? dan sebagainya.

Optimisme bahwa perang adalah jalan terakhir juga berlaku ketika ada yang menanyakan kepada saya apakah pertikaian antara Amerika Serikat dan Iran akan menyulutkan pecahnya Perang Dunia 3. Saya optimis tidak akan terjadi perang karena kedua pihak sadar pentingnya mengedepankan diplomasi tanpa berlanjut menjadi perang.

Terkait

Author Tim Media LBP

More posts by Tim Media LBP
Made with passion by Vicky Ezra Imanuel