Gagasan

Teknologi Integrasi Manajemen Data Kesehatan Karya Anak Bangsa

Teknologi Integrasi Manajemen Data Kesehatan Karya Anak Bangsa
#LuhutPandjaitan #LBP

Sudah satu bulan lebih sejak saya ditugaskan oleh Presiden untuk membantu penanganan pandemi COVID-19 di Indonesia dibeberapa provinsi,banyak banyak fakta dan temuan yang saya rasa harus segera ditindaklanjuti agar penanganan pandemi bisa dilaksanakan secara lebih maksimal. Karena itulah kemarin saya duduk bersama jajaran Kementerian Kesehatan, Tim Gugus Tugas Covid-19 dan Group Telkom untuk mengintegrasikan sistem manajemen informasi penanganan pandemi. Saya melihat masih banyak yang perlu dibenahi dari sistem manajemen kesehatan di Indonesia, terutama terkait manajemen data. Dari rapat koordinasi ini, saya melihat ada beberapa permasalahan seperti proses input data hasil laboratorium ke sistem informasi, pemanfaatan data penanganan COVID-19 di daerah, serta integrasi berbagai aplikasi terkait COVID-19 yang sudah berhasil dikembangkan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, BUMN maupun swasta. Fragmentasi sistem informasi manajemen data yang tidak saling terintegrasi inilah yang menyebabkan ketidaksesuaian data antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

Menindaklanjuti temuan ini, saya meminta Group Telkom bekerjasama dengan Kemenkes untuk mengecek beberapa perbaikan manajemen data termasuk di dalamnya perbaikan data New All Records (NAR) terkait pencatatan hasil laboratorium orang yang dites PCR. Saya kira perbaikan data NAR harus dilakukan segera karena nantinya berhubungan erat dengan upaya surveilans dan vaksin yang akan segera kita lakukan. Mengapa ? Karena ke depannya, “big data” yang akan kita bangun ini akan dimanfaatkan untuk perbaikan manajemen data pasien kedepannya, dengan begitu kita dapat melihat data berbagai jenis penyakit yang diderita oleh masyarakat Indonesia, riwayat kesehatan pasien, rekam medis, sampai kebutuhan obat pasien sehingga kita bisa memperkirakan pabrik obat apa saja yang perlu kita bangun untuk persediaan obat di dalam negeri.

Saya juga sampaikan keinginan saya agar “big data” informasi kesehatan ini bisa terintegrasi dengan BPJS Kesehatan secara baik, dan saya tegaskan juga bahwa seluruh infrastruktur “big data” manajemen kesehatan fungsi pengelolaannya akan sepenuhnya dipegang oleh Kemenkes. Saya meminta kepada kedua pihak untuk menyelesaikan integrasi manajemen kesehatan untuk penanganan Covid ini maksimal diselesaikan pada bulan Desember, dengan catatan secara bertahap akan ada beberapa perbaikan yang bersifat minor dan mendesak untuk memperbaiki sistem yang sudah ada. Dengan begini, kita sedang mulai mewujudkan reformasi kesehatan di Indonesia, lewat integrasi manajemen data kesehatan berbasis teknologi informasi.

Di akhir, saya sampaikan perhatian khusus saya mengenai target jumlah orang yang di tes Indonesia dan percepatan keluarnya hasil tes Covid 19 di Indonesia yang saat ini masih diatas 48 jam . Saya ingin kita terus mengejar standar acuan yang telah ditetapkan WHO, mengingat jumlah orang yang beberapa daerah masih di bawah standar WHO. Walaupun secara kapasitas laboratorium sebenarnya Indonesia telah mampu memenuhi standar WHO yaitu jumlah tes 1 orang berbanding 1,000 penduduk perminggu dengan positivity rate di bawah 5%. Maka dari itulah saya rasa pemeriksaan harus lebih ditargetkan kepada orang yang bergejala, terutama yang berasal dari hasil “tracing”. Saya berharap integrasi sistem manajemen data penanganan COVID-19 yang sedang kita kembangkan bersama-sama ini bisa berjalan dengan efektif sehingga bisa menampilkan data yang faktual dan nyata. Dengan begitu masyarakat akan mendapatkan informasi yang paling faktual terkait penanganan pandemi di Indonesia, dan pemerintah Indonesia akan punya sistem manajemen kesehatan yang saling terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Terkait

Author Tim Media LBP

More posts by Tim Media LBP
Made with passion by Vicky Ezra Imanuel