Gagasan

Strategi Wujudkan Ketahanan Pangan Nasional Secara Mandiri

Strategi Wujudkan Ketahanan Pangan Nasional Secara Mandiri
#LuhutPandjaitan #LBP

Sejak peringatan tentang ancaman krisis pangan dunia akibat pandemi COVID-19 dikeluarkan oleh Organisasi PBB untuk pangan dan pertanian dunia (FAO) di bulan Maret 2020, saya berpikir sudah saatnya kita harus berbenah dalam hal ketahanan pangan nasional. Apalagi setelah membaca riset yang dirilis oleh banyak pengamat dan peneliti pertanian, menunjukkan bahwa indeks ketahanan pangan nasional kita mengalami kenaikan, namun sayangnya kenaikan ini tidak selaras dengan ketahanan pangan mandiri Indonesia karena masih adanya peningkatan jumlah impor bahan pangan setiap tahunnya.

Saya merasa sangat bangga ketika tanah kelahiran saya, Tanah Toba dipilih menjadi salah satu Kawasan Food Estate atau Lumbung Pangan Nasional yang sudah didapuk menjadi Program Strategis Nasional (2020-2024). Tiga hari yang lalu, saya bersama jajaran kementerian terkait diminta untuk mendampingi Presiden Joko Widodo meninjau perkembangan kawasan Food Estate tepatnya di Desa Siria-ria, Kecamatan Pollung.Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Perlu saya jelaskan bahwa Kawasan Food Estate akan dibangun di dua provinsi untuk program tahap awal, pertama di Provinsi Sumatera Utara dan kedua di Provinsi Kalimantan Tengah. Jika di Kalimantan Tengah akan dibangun Food Estate khusus untuk padi dan singkong, nantinya Food Estate di Provinsi Sumatera Utara akan difokuskan untuk menanam tiga komoditas pangan, yakni kentang, bawang merah, bawang putih, wortel, serta tanaman hortikultura lainnya.

Pemilihan lokasi Kawasan Food Estate di Provinsi Sumatera Utara tepatnya di empat Kabupaten yaitu Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah, dan Kabupaten PakPak Bharat, dilakukan melalui serangkaian kajian lingkungan dan proses peralihan fungsi kawasan hutan lewat survey lapangan oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi bersama jajaran kementerian terkait dengan melibatkan akademisi dari berbagai Universitas dan Institut ternama di bidang Pertanian, pada 20-24 September 2020. Dari luas keseluruhan 60,000 hektare yang tersedia, 30,000 hektare sudah siap digunakan untuk Food Estate.Sehingga saya pastikan delineasi Kawasan Food Estate tidak melewati batas hutan lindung atau area konservasi lainnya.

Saya melihat ada semangat dan optimisme tersendiri yang muncul di mata para petani ketika Presiden datang kesana. Ada antusiasme tersendiri yang saya lihat dan amati dari pembicaraan para petani dengan Presiden tentang program yang sudah berjalan ini, akan bisa dilihat hasilnya kira-kira dua bulan ke depan. Apalagi lahan-lahan di Humbang Hasudutan ini akan menjadi contoh bagi penerapan koperasi pertanian dari hulu ke hilir dari budidaya pasca panen dan kemudian masuk ke industri pertanian. Sehingga bisa terwujud kawasan hortikultura terpadu yang berdaya saing, ramah lingkungan dan modern yang hasilnya bisa didapat oleh petani dalam jumlah yang lebih besar serta menjadi percontohan untuk provinsi lainnya yang ingin membuat Food Estate.

Setelah berkeliling di lahan Kawasan Food Estate, Presiden mengajak kami untuk membagikan sertifikat tanah kepada masyarakat adat di Stadion Simangaronsang, Kecamatan Doloksanggul. Dalam kesempatan itu, saya mendengar Presiden menyampaikan pesan yang sangat penting untuk masyarakat adat penerima sertifikat, yaitu jika kita sudah memegang sertifikat tanah, hak hukum kita atas tanah itu menjadi jelas. Maka dari itu harus dijaga dengan baik. Puluhan ribu sertifikat yang saya saksikan diserahkan langsung oleh Presiden, termasuk diantaranya adalah 87 sertifikat untuk bidang lahan yang berada di kawasan Food Estate di Humbang Hasudutan sehingga keberadaan lahan produktif tetap terjaga baik demi terealisasinya ketahanan pangan, khususnya bagi Masyarakat Toba.

Melihat semangat dan optimisme dari para petani di Desa Siria-Ria ini,saya merasa terharu karena kecintaan terhadap tanah air dan bangsanya tak habis-habis ditunjukkan oleh masyarakat Toba. Hari ini kita mungkin belum merasa resah karena bahan pangan masih tersedia, namun krisis pangan global sudah mengintai dari jauh. Oleh karena itu, kita tidak boleh tinggal diam, terobosan dan langkah harus terus diupayakan demi mempersiapkan segala kemungkinan yang terjadi di masa mendatang. Sehingga kelak ketika pandemi ini usai, Indonesia mampu mencapai cita-cita besar nya yaitu Ketahanan Pangan Nasional secara mandiri lewat swasembada pangan secara keseluruhan serta merajai ekspor bahan pangan di seluruh dunia.

Terkait

Author Tim Media LBP

More posts by Tim Media LBP
Made with passion by Vicky Ezra Imanuel