Gagasan

Siapa Bilang Orang Indonesia Tidak Bisa Bersaing Secara Global?

Dibaca: 16 Oleh 25 Nov 2019Februari 27th, 2020Tidak ada komentar
Siapa Bilang Orang Indonesia Tidak Bisa Bersaing Secara Global?
#LuhutPandjaitan #LBP

LBP – Sampai hari ini setiap kali saya melintas perempatan Jalan Gatot Soebroto dan Jalan HR Rasuna Said yang tidak pernah tidak macet, saya selalu mendongakkan kepala ke arah jembatan lengkung LRT Jabodetabek yang sudah bersambung. Dan setiap kali pula muncul rasa bangga yang tidak habis-habisnya. Ya, siapa yang tidak bangga karena inilah jembatan panjang tanpa tiang (longspan) melengkung yang paling panjang di dunia, 148 meter.

Jembatan itu dihitung dan dirancang oleh seorang insinyur perempuan Indonesia lulusan ITB, Namanya Arvila Delitriana yang sehari-hari dipanggil Dina. (Yang berdiri di sebelah kanan saya dalam foto ini, mengenakan batik cokelat)

Sekira sebulan sebelumnya, Dirut Adhi Karya, yaitu kontraktor BUMN yang membangun LRT ini melaporkan kepada saya bahwa dalam waktu tidak lama lagi, jembatan lengkung di atas simpangan super ramai Gatsu dan Rasuna Said akan tersambung, dan saya diminta untuk meresmikan penyambungannya.

Sang Dirut menambahkan, “Perancangnya orang Indonesia asli, Pak!”. Saya langsung jawab dengan antusias, “Pasti, pasti saya akan datang!”

Memang, kalau saya melintas bawah jembatan tersebut, saya selalu bertanya-tanya dalam hati, ini jembatan bisa nyambung nggak ya? Sebagai awam dalam rancang bangunan, takut juga melihat dua sisi jembatan berada tepat di atas lalu-lintas tol yang tidak pernah sepi dibawahnya.

Baca juga:  Mewujudkan Peradaban Baru yang Berkelanjutan

Di bawahnya tidak ada pula tiang-tiang penopang, lantas bagaimana kerjanya ya…

Pada hari peresmian, sengaja saya membawa beberapa orang rekan Menteri, yaitu Menteri PUPR, Menteri BUMN dan Menteri Perhubungan untuk turut menyaksikan detik-detik penyambungan tersebut. Menurut saya, ini merupakan prestasi luar biasa, lebih-lebih saya dengar bahwa tadinya, Ir. Dina diragukan kemampuannya untuk merancang konstruksi itu oleh pesaing bule.

Pada pidato di atas jembatan tersebut saya puji si perancang dan juga kontraktornya karena mampu melakukan sebuah pekerjaan konstruksi luar biasa yang 100 persen dilakukan oleh orang kita. Tidak ada bule sama sekali yang ikut.

Siapa bilang orang Indonesia tidak bisa bersaing secara global?

Hanya satu hari setelah peresmian, Presiden Joko Widodo juga memuji karya hebat anak bangsa itu dalam akun medsosnya. Membaca pujian itu, saya sependapat dengan Presiden, dan hebatnya si insinyur tersebut tetap seorang yang rendah hati. Saya ajak Dina untuk makan siang di kantor saya bersama sejumlah tamu terhormat lain.

Baca juga:  Semangat Melawan Corona

Salah seorang tamu bertanya kepadanya, “Bagaimana merancang jembatan lengkung begitu?”, ia hanya menjawab, “Setiap jembatan yang saya buat, saya anggap seperti bayi saya…!” Di sini saya melihat betapa Dina bekerja dengan penuh kecintaannya terhadap profesinya.

Bagi pihak awam lain (seperti saya) saya tambahkan data: jarak antara dua tiang penyangganya 148 meter, dan khusus bagian yang melengkung (berbelok) itu panjangnya 115 meter. Seperti diketahui, jalur LRT dari arah Cawang yang menuju Jalan Rasuna Said hanya bisa melalui sisi kanan Jalan Gatot Soebroto, dan jalur tengah Jalan HR Rasuna Said. Nah, satu-satunya wilayah kosong dimana jalan bisa berbelok adalah tepat di atas perempatan jalan tersebut.

Simpang empatnya sendiri sudah ada jalan tiga susun; ada under-pass dari Jalan Warung Buncit, kemudian jalan biasa dan kemudian jembatan jalan tol tumpuk-menumpuk di satu lokasi! Jadi, mau-tidak-mau tidak boleh ada satu tiang pun yang berada di jalan tumpuk tiga itu, baik untuk jembatannya maupun ketika membangunnya.

Material beton yang digunakan untuk jembatan itu saja hampir 10 ribu ton dan besi betonnya juga masif : 3000 ton. Maklum, ini jembatan yang akan dilewati oleh kereta api yang pasti berat dan bergerak dengan kecepatan yang relatif cepat.

Baca juga:  Kebijakan Pemerintah dan Kebangkitan Industri Indonesia

Dan Dina dibantu oleh tim konstruksi Adhi Karya mampu menyelesaikan tanpa satu kesalahan pun. Tidak ada beton yang jatuh menimpa mobil yang melaju dibawahnya, tidak ada kecelakaan apapun dari tenaga kerja yang bekerja 24 jam non-stop.

Di era di mana kita sesama bangsa Indonesia sempat muncul krisis kepercayaan pada diri sendiri, ada sikap saling curiga dan setiap usaha pemerintah ditanggapi dengan cara nyinyir; patut kita kedepankan apa yang dilakukan oleh Dina dan Adhi Karya sebagai sisi positif dari anak bangsa yang tidak ribut-ribut tapi bekerja dan menghasilkan karya hebat.

Saya dengar, Dina kini sedang merancang jembatan lain di Teluk Balikpapan yang akan menghubungkan kota Balikpapan dengan wilayah Ibukota Negara (IKN) baru, dan bentang tanpa tiang yang ia buat itu hampir 500 meter!

Luar biasa! Saya harapkan ke depannya akan muncul banyak orang Indonesia lain dengan prestasi yang serupa luar biasanya, dan turut berkontribusi mengharumkan nama bangsa dan negara besar ini.

Hari ini kita patut bangga jadi orang Indonesia.

Author Tim Media LBP

More posts by Tim Media LBP
Made with passion by Vicky Ezra Imanuel