Gagasan

Pengembangan Industri Electric Vehicle di Indonesia

Oleh 23 Jun 2021Juli 5th, 2021Tidak ada komentar
Konsep Otomatis
#LuhutPandjaitan #LBP

Selama dua hari ini saya melakukan kunjungan ke beberapa perusahaan industri pengolahan nikel yang sudah lama tidak saya kunjungi. Betapa bahagianya saya hari ini karena sempat menyaksikan sejarah dimulainya Operasi Produksi Fasilitas HPAL (High Pressure Acid Leaching) untuk pertama kalinya di Indonesia yang terletak di Pulau Obi. Ini adalah satu langkah awal untuk bisa mewujudkan industri EV di Indonesia, melalui pemanfaatan/pengolahan bijih nikel limonit yang selama ini belum bisa dimanfaatkan dengan teknologi RKEF, lewat teknologi “HPAL” ‘limonit” dapat dimanfaatkan dengan optimal.

Dengan dimulainya kegiatan pengolahan bijih nikel berbasis teknologi Hidrometalurgi yang dimiliki ini, sudah pasti akan mendorong percepatan Hilirisasi mineral menuju Industrialisasi berbasis baterai hingga selanjutnya menuju pengembangan industri Electric Vehicle di Indonesia. Untuk itu saya rasa kita perlu mendukung dan terus mendorong terjadinya peningkatan investasi agar ada penambahan “line” produksi sehingga kita mendapat sebesar-besarnya manfaat dari proses produksi ini. Selain itu saya juga mengunjungi perusahaan lainnya yaitu PT IWIP yang saya ingat hampir 2,5 tahun lalu saya pernah datang ke kawasan industri Weda Bay ini ketika “ground breaking”, dan saya merasa sangat bahagia sekarang ketika saya kembali berkunjung kesini karena ternyata nilai investasinya sudah lebih dari 5 miliar dolar dan akan menjadi 11 miliar dolar dalam waktu dekat.
Karenanya saya tekankan kepada seluruh K/L yang terlibat di sana tak terkecuali semua industri strategis yang mendatangkan nilai tambah bagi perekonomian negara seperti ini harus memiliki politeknik yang khusus diperuntukkan bagi putra-putri daerah, agar mereka bisa menikmati pendidikan yang berkualitas sehingga suatu saat mereka bisa bekerja mengambil alih ilmu dan teknologi industri hilirisasi yang saat ini masih kita pelajari dari pihak asing. Fakta yang saya lihat bahwa hingga 2024 nanti, total pekerja di perusahaan ini akan mencapai 32 ribu orang. Bahkan jika dilakukan pengembangan lagi pada turunan baterai “lithium”, saya yakin jumlah karyawan akan menjadi dua kali lipatnya. Dengan serapan tenaga kerja sebesar itu, saya pastikan kesejahteraan di daerah karena terbukti pertumbuhan ekonomi di Maluku Utara adalah salah satu yang tidak terkontraksi meskipun pertumbuhan ekonomi nasional terkontraksi akibat pandemi. Ini berarti keberadaan industri hilirisasi mampu memberikan manfaat bagi daerah.
Saya memahami bahwa dengan memiliki kekuatan besar seperti ini, pasti muncul pula tantangan besar di masa depan dalam Industrialisasi berbasis nikel, bagi saya tantangan ini adalah mensinkronkan industri dari hulu (tambang) hingga ke hilir (manufaktur) agar “value chain” yang tercipta semakin besar. Tantangan lainnya adalah isu lingkungan. Dalam industri “smelter” ini, saya menaruh “concern” khusus terhadap pengelolaan limbah pembuangan “power plant” ini, saya ingin kita semua benar-benar melakukan kajian untuk pemilihan metode pengelolaannya agar bisa ramah lingkungan. Selain itu saya sampaikan kepada mereka bahwa perlu juga untuk melakukan program penanaman “mangrove” di tepi pantai, karena sangat bagus untuk lingkungan. Jika perlu pemda terlibat dalam penanaman “mangrove” dan reboisasinya.
Dengan anugerah besar yang diberikan Tuhan YME untuk bumi pertiwi berupa cadangan nikel terbesar di dunia, serta kesempatan di masa depan yaitu “trend” di masa depan adalah pemanfaatan teknologi yang ramah lingkungan, saya rasa kekayaan ini harus bisa memberikan dampak dan manfaat terbaik untuk negeri yang kita cintai ini sehingga akan terwujud cita-cita besar bangsa ini yaitu berdikari mengolah kekayaan alamnya sendiri untuk kemudian menjadi pemain kunci di industri kendaraan bertenaga listrik.

Author Tim Media LBP

More posts by Tim Media LBP
Made with passion by Vicky Ezra Imanuel