Gagasan

Nelson Mandela dan Forgive Not Forget

Dibaca: 21 Oleh 28 Nov 2019Februari 19th, 2020Tidak ada komentar
Luhut-Nelson Mandela
#LuhutPandjaitan #LBP

LBP-Nelson Mandela meninggal 5 Desember 2013, tepat setahun yang lalu. Dunia kala itu berduka, termasuk di Indonesia, karena Mandela sudah menjadi simbol (ikon) dunia, bukan hanya Afrika Selatan.

Sebelumnya, pemerintah Afrika Selatan mengumumkan kondisi kesehatan Nelson Mandela, pahlawan nasional dan Presiden Afrika Selatan merdeka pertama, secara perlahan tetapi pasti berangsur baik. Tokoh anti-apartheid tersebut selama beberapa minggu terakhir menderita sakit yang serius, yang membuat masyarakat di Afrika Selatan prihatin. Meskipun ia bukan Presiden lagi, dan kesehatannya selama lima tahun terakhir ini menurun kondisinya sehingga semakin jarang tampil di depan umum, tetapi Mandela adalah nama yang selalu diingat oleh rakyatnya. Ribuan orang mendoakan agar ia segera sembuh kembali, bukan karena mereka hendak menolak takdir yang menimpanya, tetapi mereka merasa berhutang budi kepada sosok tersebut.

Mandela dalam banyak kesempatan ketika kondisi kesehatannya lebih baik selalu diundang di berbagai acara di seluruh dunia. Ia bukan hanya milik Afrika Selatan saja, ia adalah milik dunia yang menjadikannya sebagai seorang negarawan yang patut diteladani. Pemenang Hadiah Nobel untuk Perdamaian tahun 1993 ini punya hubungan istimewa dengan Indonesia dan alm. Presiden Soeharto. Ia tiga kali berkunjung ke Indonesia, dan pada lawatan pertama kalinya ia sudah menyenangi baju batik. Sejak ia diberikan baju batik oleh Pak Harto, Mandela tidak pernah lepas menggunakan kemeja itu dalam hampir semua kesempatan, informal maupun pada acara internasional sekalipun.

Nelson Rolihlahla Mandela, demikian nama lengkapnya, lahir di sebuah desa miskin bernama Mvezo pada  18 Juli 1918. Setelah kehidupan masa kecil, remaja dan muda yang naik dan turun, Mandela akhirnya terjun ke politik. Dan dalam waktu yang tidak lama, ia sudah masuk daftar hitam pemerintah Afrika Selatan. Ditangkap, diperiksa dan di penjara menjadi bagian dari sebagian besar kehidupannya setelah itu.

Baca juga:  Menyongsong Ibu Kota Baru

Mandela mulai mengenal penjara. Hukuman terberat dijatuhkan kepadanya tahun 1964 yaitu penjara seumur hidup. Ia dan sejumlah aktivis anti-apratheid lainnya di penjarakan di Pulau Robben, sebuah pulau kecil di Samudra Atlantik yang setara kejamnya dengan Penjara Alcatraz di Teluk San Fransisco. Tetapi penjara tidak mampu memadamkan semangat perlawanan anti-apartheid sehingga pemerintahlah yang kemudian menyerah, Mandela dan kawan-kawannya harus dilepas.

Dalam pidato pertama sebagai seorang yang merdeka hanya beberapa jam setelah dilepaskan dari penjara pada tahun 1990  (ia selalu mengatakan bahwa ia sebenarnya “menikmati” masa 10.000 hari di penjara!), Mandela berkata bahwa, perjuangan belum selesai tetapi, katanya lagi, we should walk the last mile together. Kita harus menjalankan satu mil terakhir bersama-sama.

Saya berulang kali membaca buku yang ditulisnya, Long Walk To Freedom (1994), dan saya buka lagi buku tersebut dihari meninggalnya.  Berulang kali saya kagum atas semua yang dijalankannya, terutama ketika ia semakin dekat ke arah kebebasan, ia semakin melihat bahwa kebebasan yang diberikan kepadanya bukan berarti ia akan memimpin masyarakat hitam di Afrika Selatan membalas dendam (revenge) terhadap politik apartheid (berasal dari bahasa Afrikaan yang artinya ‘kebijakan negara yang memisahkan’) yang dijalankan oleh pemerintahan kulit putih sejak tahun 1948.

Nelson Mandela menggunakan kemerdekaannya yang diberikan kepadanya oleh Presiden kulit putih F.W de Klerk untuk meyakinkan seluruh masyarakat bahwa Afrika Selatan yang dicita-citakannya adalah sebuah negara multi-etnis dimana seluruhnya hidup dalam kondisi sama rata dan sama rasa. Pidato-pidatonya selalu bernada sejuk, mengajak kaum hitam untuk menjauhi balas dendam serta meyakinkan masyarakat putih bahwa mereka tidak akan diperlakukan sebagai pihak yang kalah. Forgive, but not forget adalah kalimatnya yang mendunia karena kata kunci “tidak melupakan” dan “memaafkan”  membuka sebuah halaman baru dalam peradaban manusia masa kini. Semangat tersebut pernah sempat mengilhami kita di Indonesia yang banyak diantaranya berusaha balas dendam di tahun 1965-966 dan di masa pergantian Orde Baru ke Reformasi (1998-2000). Sayang, tidak tidak sempurna meniru sikap Mandela tersebut.

Baca juga:  Diversifikasi Ekonomi Lewat Industri Wisata Medis

Menurut saya, negarawan yang sesungguhnya adalah pribadi yang mau memberi contoh, mau bersikap sahaja, menepati janji yang pernah diucapkannya serta tidak mengingkarinya dengan berbagai alasan  dan tidak pernah menyimpan dendam terhadap musuh politiknya. Aura seorang negarawan sejati biasanya terpancar dari kombinasi faktor-faktor di atas, dan tidak bisa diselubungi dengan tirai palsu atas nama citra atau image.

Para pendiri bangsa kita (founding fathers) menurut saya banyak yang sekaliber dengan Mandela. Bung Karno beberapa kali ditangkap oleh polisi kolonial Hindia Belanda dan beberapa kali di asingkan dari masyarakat. Bung Karno dibuang ke Ende dan Bengkulu. Bung Hatta di buang ke Digul dan Banda Neira. Dan banyak aktivis kemerdekaan lainnya yang diteror, diancam kehidupan perekonomiannya atau benar-benar dihukum oleh pemerintah kolonial.

Sejarah kemudian mencatat bahwa mantan ‘orang buangan’ di Digul, Drs. M. Hatta memimpin delegasi Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di Negeri Belanda tahun 1949. Bung Hatta. Mantan ‘buangan’ di Ende, Ir. Soekarno menjadi Presiden Republik Indonesia pertama. Mereka mampu menunjukkan diri sebagai negarawan pada usia yang relatif sangat muda. Ketika Bung Karno diangkat menjadi Presiden, usianya baru 44 tahun, dan ini menunjukkan bahwa statementship atau kenegarawanan tidak bergantung kepada usia.

Baca juga:  Melawan Covid-19 dengan Kebijakan yang Tepat

Para pemimpin negara kita setelah tahun 2000 tidak mempunyai track record sebagai orang yang pernah ditangkap oleh pemerintahan penjajahan atau dipenjara karena sikap anti-penjajahan. Ini adalah ‘keistimewaan’ milik masa lampau, tetapi bukan berarti para pemimpin negara masa kini tidak bisa membuat legacy yang sama besar nilainya dengan “hak” yang dipunyai para founding fathers kita.

Forgive Not Forget

Beberapa waktu lalu, dua Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) datang ke kantor saya dan berbicara cukup banyak. Salah satu topik yang ditanyakan kepada saya adalah, apakah Presiden Joko Widodo pada waktunya nanti, bersedia menyampaikan semacam pidato yang pada pokoknya menyerukan semacam “rujuk nasional”. Forgive not forget. Saya menyambut dengan antusias pemikiran Komnas HAM tersebut, sebab bila bisa terlaksana, kita akan banyak menyimpan energi kita untuk hal-hal lain ke depan dan bukan lagi berbicara serta berkelahi mengenai masa lalu.

Sejarah akan mencatat apakah para pemimpin kita pasca tahun 2014, mampu mencatatkan prestasi dan pengabdiannya sebagai sebuah legacy milik bangsa atau bukan, tetapi saya yakin, melihat pribadi Pak Jokowi, beliau akan melakukan hal itu.

Author Tim Media LBP

More posts by Tim Media LBP
Made with passion by Vicky Ezra Imanuel