Mengenang Cak Nur dan Gus Nur
#LuhutPandjaitan #LBP

Dalam kehidupan ini, selalu ada “mereka” yang membutuhkan sapaan dan bahkan tanggung-jawab kita. Saya kira inilah prinsip dasar moralitas kesalehan yang manusiawi, yang universal, yang dapat dijadikan sebagai pilar kehidupan besama.

(Alm.) Moeslim Abdurrahman. Cendekiawan Muslim.

Pembaca yang Budiman, dalam beberapa tahun terakhir ini, dua tokoh Cendekiawan Muslim Indonesia yang kita hormati, berpulang: Almarhum Presiden Abdurachman Wahid dan Almarhum Moeslim Abdurrahman.

Saya bersyukur pernah mengenal mereka secara langsung. Berbagai pelajaran penting tentang hidup dan kehidupan berbangsa saya catat dari obrolan-obrolan dengan mereka.

Gus Dur, selain pernah menjadi atasan saya, pada tahun-tahun menjelang kepulangannya beliau lebih sebagai seorang kakak bagi saya. Perkataan Gus Dur pada Idul Adha tahun 2000 jelas dalam ingatan saya: agar kita menyikapi cobaan yang dihadapi Bangsa kita secara tawadhu (rendah hati) dan huznudzon (berbaik sangka); pula dalam mencari dan menjalankan solusi atas cobaan tersebut.

Mas Muslim adalah sahabat jiwa saya. Dalam suasana informal, kami saling menyapa secara “elu” dan “gue”. Ribuan jam ngobrol berdua bertahun-tahun  pertemanan kami rasanya masih belum cukup.

Baca juga:  Pembangunan Infrastruktur dan Konektivitas di Kawasan Indo-Pasifik

Author Tim Media LBP

More posts by Tim Media LBP
Made with passion by Vicky Ezra Imanuel