Gagasan

Membajak Momentum Krisis Lewat Percepatan Industri Kendaraan Listrik

Dibaca: 21 Oleh 26 Agu 2020Tidak ada komentar
Membajak Momentum Krisis Lewat Industri Kendaraan Listrik
#LuhutPandjaitan #LBP

Setelah menyimak pidato sidang tahunan dalam rangka HUT Kemerdekaan RI ke-75 yang disampaikan Presiden Joko Widodo di kesempatan sidang tahunan MPR RI 14 Agustus lalu, ada satu hal yang menjadi perhatian saya yaitu ajakan beliau untuk membajak momentum krisis akibat pandemi untuk melakukan lompatan besar. Dan saat itu presiden menyebutkan “hilirisasi” sebagai salah satu langkah dan kebijakan yang diambil oleh pemerintah untuk melakukan lompatan merebut momentum krisis ini. Untuk itulah, saya beserta K/L terkait hari ini berkoordinasi tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai.

Di awal, saya tegaskan kepada teman-teman di jajaran K/L terkait untuk menyatukan pandangan bahwa kita tidak bisa main-main dengan lobby-lobby negara lain, hanya ada kepentingan nasional di balik pelaksanaan program ini. Untuk itu, saya rasa perlu mempercepat segala peraturan menteri demi mensukseskan industry mobil listrik di Indonesia. Saya kira penyusunan peraturan seperti spesfifikasi khusus, peta jalan, sampai penyediaan infrastruktur untuk pengisian daya kendaraan listrik, harus diharmonisasikan oleh lintas Kementerian terkait. Saya percaya bahwa Indonesia mampu memproduksi Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) di dalam negeri, karena kita sudah menguasai modal awalnya yaitu Baterai Lithium yang merupakan komponen dasar energi kendaraan listrik. Baterai Lithium ini diperoleh dari hasil pengolahan bijih nikel lewat proses hilirisasi.

Baca juga:  Uluran Tangan Demi Pulihnya Indonesia

Saya juga sampaikan di rapat hari ini bahwa yang paling penting dibutuhkan saat ini adalah perumusan regulasi terkait pengurangan bea masuk, bagi komponen untuk mobil listrik yang sifatnya sementara agar harga mobil listrik dapat bersaing. Saya sepakat bahwa ekosistem industry ini juga bisa mendapatkan insentif, sehingga nantinya akan banyak menggerakkan roda perekonomian baru. Saya pun merasa perlu adanya dukungan moril dari pemerintah dengan cara menjadikan Kendaraan Listrik sebagai kendaraan dinas operasional pada Kementerian/Lembaga/BUMN/D, dan dukungan materil lewat insentif fiskal berbasis TKDN. Karena semakin tinggi TKDN, semakin tinggi insentifnya sehingga tercipta peta jalan industri yang dapat memicu tumbuhnya industri komponen dalam negeri.

Saya berharap agar kehadiran regulasi dan “roadmap” industry KBLBB yang dibahas dari semua kementrian dalam rapat hari ini bisa selesai dalam dua minggu kedepan, sehingga industri Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai bisa menjadi industry pionir untuk pasar dalam negeri yang potensial, bukan sekedar untuk menjadikan Indonesia sebagai pasar kendaraan listrik hasil produksi luar negeri. Jika lompatan besar dari bijih nikel menjadi pusat mobil listrik dunia ini berhasil kita ciptakan, keuntungan terbesarnya adalah defisit transaksi berjalan bisa kita perbaiki, PDB bisa kita tingkatkan sampai USD 4,5Miliar, 8 ribu hingga 16 ribu tenaga kerja bisa terserap, dan pajak kepada negara sekitar USD 1 Miliar per tahun bisa masuk, dan yang tidak kalah pentingnya adalah kita turut berkontribusi dalam upaya pelestarian bumi kita dengan mengurangi ketergantungan kita terhadap energi fosil. Sehingga kita mampu menjukkan kepada dunia internasional bahwa di masa krisis yang dialami seluruh negara di dunia, kita tidak meratapinya. Tetapi kita sedang mempersiapkan diri menjadi pemegang kunci industri kendaraan listrik dunia dengan mengolah hasil kekayaan alam kita sendiri secara mandiri.

Baca juga:  Bangsa Indonesia Harus Jadi Tuan di Negerinya Sendiri

Terkait

Author Tim Media LBP

More posts by Tim Media LBP
Made with passion by Vicky Ezra Imanuel