Gagasan

Kebijakan Pemerintah dan Kebangkitan Industri Indonesia

Dibaca: 4 Oleh 04 Des 2019Maret 2nd, 2020Tidak ada komentar
Kebijakan Pemerintah dan Kebangkitan Industri Indonesia
#LuhutPandjaitan #LBP

LBP – Berbicara tentang kebijakan pemerintah pasti banyak hal yang membuat saya makin mencintai negeri saya ini, seperti saat berbicara tentang kebijakan terkait potensi kekayaan alam Indonesia kepada Bloomberg TV Singapura di Shanghai hari ini. Sudah terlalu lama saya kira Indonesia mengandalkan ekspor komoditas mentah. Ini harus dihentikan karena harga komoditas mentah berfluktuasi sangat tinggi sehingga membuat hasil ekspor Indonesia rentan terhadap berbagai guncangan. Untuk itulah, kami akan terus fokus pada pengembangan hilirisasi industri logam mineral.

Saya percaya bahwa larangan ekspor bijih nikel diperlukan agar generasi penerus Indonesia dapat memperoleh manfaat penuh berupa nilai tambah dari sumber daya alam kita yang kaya. Hilirisasi Industri Nikel atau yang bisa diartikan sebagai usaha untuk mengubah bahan mentah menjadi bahan jadi, akan terus menjadi fokus saya dan segenap jajaran Kemenko Kemaritiman dan Investasi RI yang mendapatkan mandat dari Presiden untuk mengundang investasi sebanyak mungkin.

Terbukti saat ini sudah ada investasi senilai USD 10 Miliar untuk pengolahan nikel terintegrasi yang lokasinya di Morowali dan Weda Bay. Hasil pengolahan nikel terintegrasi ini salah satunya adalah baterai lithium yang menjadi sumber energi kendaraan listrik. Presiden juga telah mengeluarkan Keputusan Presiden No.55 tahun 2019 yang menguraikan insentif untuk promosi Kendaraan Listrik dengan mengurangi pajak/bea impor dan memberikan stimulus untuk penelitan terkait Kendaraan Listrik.

Baca juga:  Bersiap Menghadapi Era Kebangkitan Industri di Indonesia

Dengan potensi kekayaan alam sebesar ini khususnya dalam energi terbarukan, selain kendaraan listrik, saya juga akan menjajaki kemungkinan eksplorasi produk perkebunan kita yang berlimpah untuk membuat “bio-fuel” yang ramah lingkungam demi mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Saat ini, Indonesia sudah berhasil mengenakan 20% campuran biodiesel wajib dengan bahan bakar migas, hasilnya adalah berkurangnya volume impor energi fosil hingga 25-30%. Saya selalu tegaskan komitmen Indonesia kepada para investor di luar negeri bahwa kami hanya ingin teknologi “kelas satu”. Dan saya rasa sudah waktunya industri di Indonesia bangkit dan menyumbangkan pertumbuhan ekonomi negara yang lebih baik ke depan

Author Tim Media LBP

More posts by Tim Media LBP
Made with passion by Vicky Ezra Imanuel