Letnan Jenderal TNI Ahmad Yani, 1 Oktober 2015

Letnan Jenderal TNI Ahmad Yani, 1 Oktober 2015

Almarhum Ben Mboi, mantan dokter RPKAD dan mantan Gubernur Nusa Tenggara Timur punya cerita menarik mengenai hubungannya secara pribadi dengan Letjen TNI Ahmad Yani, Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad).

Dalam memoarnya yang ditulis beberapa tahun lalu ia ungkapkan bahwa suatu hari, ketika bertugas di rumah sakit militer di NTT ia berselisih dengan atasannya Komandan Korem (Danrem) setempat. Ia diberhentikan dari pekerjaannya dan terancam dipecat dari dinas militer, sesuatu yang ia tidak terima. Singkat cerita, kasus tersebut sampai ke telinga Pak Yani sehingga ia dipanggil menghadap ke Jakarta. Didampingi oleh Aspers yang duduk dibelakang Men/Pangad, menghadaplah Ben Mboi ke Pak Yani, 'Kamu tahu pekerjaan saya sangat banyak. Saya mengurus ratusan Kolonel, ribuan prajurit dan sejumlah Jenderal tetapi mengapa saya memerlukan memanggil kamu seorang Kapten..?' kata Yani. 'Karena saya menghargai kamu, dan karena melihat prestasi kamu saya merasa perlu mendengarkan langsung laporanmu..!'

Kapten Inf. Ben Mboi menceritakan secara kronologis peristiwa yang dialaminya yang didengarkan oleh Pak Yani dengan teliti. Akhirnya ia percaya pada keterangannya, dan justru memerintahkan kepada Aspers untuk memecat Danrem tersebut dari jabatannya. Begitu terharu Ben dengan sikap Menterinya sehingga ia menangis serta bersimpuh de depan Pak Yani. Men/Pangad mengangkat tubuhnya sambil berkata, “Duduklah karena kau pantas duduk sejajar karena walaupun pangkatmu hanya Kapten tetapi jauh lebih tinggi martabatnya dari seorang Kolonel…!”

Apa pelajaran dari cerita di atas? Setidaknya ada tiga hal penting. Pertama, seorang pemimpin tentara (dalam hal ini Letjen Ahmad Yani) harus mau mendengarkan laporan semua peristiwa penting yang berada dibawah kendalinya. Kedua, seorang pemimpin adalah pengayom anak buahnya meskipun pangkat atau kedudukannya jauh lebih rendah dari dirinya. Ketiga, seorang pemimpin harus berani mengambil sebuah keputusan adil, cepat tetapi tepat.

Saya sebagai generasi yang jauh lebih muda dari almarhum Letjen Ahmad Yani tentu tidak sempat mengalami kepemimpinannya tetapi saya mendengar cerita mengenai legendanya dari orang-orang yang sangat dekat dengannya, dan kebetulan juga saya kenal pribadi. Paling tidak ada tiga orang yang pernah menceritakannya kepada saya. Pak Sarwo Edhie Wibowo, mantan Komandan RPKAD yang menjadi Gubernur Akabri Udarat ketika saya jadi taruna; kemudian Jenderal M. Jusuf, mantan Menhankam/Pangab yang sering membawa saya keliling Indonesia; Jenderal Benny Moerdani, mantan Pangab yang banyak mendidik saya di bidang intelijen. Pak Sarwo dan Pak Jusuf adalah anak buah sekaligus sahabat Pak Yani, sementara Pak Benny pernah jadi “anak emas”nya pada era operasi Irian Barat.

Dari cerita-cerita itulah saya menarik kesimpulan bahwa almarhum Pak Yani adalah salah satu dari para pemimpin yang mewarnai eksistensi institusi TNI sehingga mencapai bentuknya yang sekarang. Setiap pemimpin Tentara Nasional Indonesia dimulai dari era Panglima Besar Sudirman mempunyai karakter yang khas yang kemudian menjadi sebuah legacy yang lalu sekali terhimpun dalam mosaik besar yang bernama TNI. Legacy itu kemudian juga seperti obor yang dibawa secara marathon oleh para pelari Olimpiade, dibawa secara beranting dari satu pelari ke orang yang lain tanpa pernah padam sekalipun hingga dinyalakan di stadion utama.

Pak Yani, Mayjen R. Soeprapto, Mayjen S. Parman, Mayjen MT Haryono, Brigjen D.I.Pandjaitan dan Brigjen Sutoyo plus seorang perwira pertama (Lettu Czi Pierre Tendean) meninggal dunia pada 1 Oktober 1965 akibat diculik, dibunuh serta dibenamkan di sebuah sumur tua di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur. Mereka baru ditemukan dua hari kemudian dan dimakamkan tepat pada 5 Oktober 1965, pada peringatan Hari Angkatan Bersenjata RI yang untuk pertama kalinya tidak diperingati karena tertutup oleh peristiwa duka.

Setahu saya, belum pernah tercatat dalam sejarah kemiliteran mana pun di dunia dimana begitu banyak jenderal tewas sekaligus secara demikian tragis.

Sekarang, setengah abad kemudian saya mengenang jasa-jasa mereka yang mereka berikan kepada bangsa dan Tanah Air, kepada institusi TNI dan kepada masyarakat. Dalam jabatan serta kedudukan saya di pemerintah sekarang ini, saya juga mendorong masyarakat untuk memberikan penghargaan yang wajar kepada para Pahlawan Revolusi karena lepas dari kegaduhan bersifat politis yang sekarang banyak muncul masalah Hari Kesaktian Pancasila atau siapa yang bertanggungjawab atas kejadian tersebut tetapi sangat elok pula kita bersikap positif mengingat peristiwa tersebut seraya mengambil hikmah dari peristiwa tersebut.

***

Seperti saya ungkapkan di atas, saya tidak mengenal almarhum Pak Yani dan para rekannya yang gugur pada 1 Oktober 1965 itu, tetapi saya bahagia kenal dengan paling tidak dua putra dari para Pahlawan Revolusi tersebut. Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo adalah anak dari Brigjen Sutoyo, teman satu angkatan di Akabri serta sama-sama lulus tahun 1970. Letjen TNI (Purn) Hotmaradja Pandjaitan adalah anak dari Brigjen DI Pandjaitan, dia adalah anak buah saya, menjadi semacam adik saya di Kopassus.

Keduanya telah pensiun sekarang ini, tetapi melihat capaian karier mereka hingga mendapat tiga bintang, saya bisa nilai mereka sukses sebagai anggota TNI generasi penerus serta mampu menjadi penerus cita-cita ayah mereka dahulu. Ayah kedua perwira tinggi itu mempunyai legacy mereka, dan anak-anaknya juga menorehkan legacy mereka sendiri. Tidak sia-sia pengorbanan ayah mereka 50 tahun yang lalu.