Inspirasi dari Kota Konflik Grozny

Inspirasi dari Kota Konflik Grozny

Grozny. Kota tersebut adalah ibukota dari Republik Chechnya. Saya masih ingat beberapa tahun lalu ketika mengunjungi Rusia, Grozny adalah salah satu wilayah konflik. Kala itu, kota ini hampir hancur lebur akibat peperangan. Namun, kini saya melihat sesuatu yang berbeda. Grozny telah menjadi kota yang apik. Jalan-jalan yang cukup lebar dan terlihat bersih. Beberapa gedung-gedung pencakar langit berdiri tegak di pusat kotanya. Semua itu bisa dicapai setelah kesepakatan damai bisa diraih. Di kota ini pula, Pemerintah Rusia mengadakan International Meeting of High-Ranking Officials Responsible for Security Matters. Konferensi ini adalah pertemuan ke 7, dan saya sebagai Menko Polhukam diundang untuk mewakili Pemerintah Indonesia. Total ada 48 negara hadir dengan 340 peserta.

Konferensi ini memfokuskan kepada penanganan internasional terhadap radikalisme dan terorisme. Indonesia diberi kesempatan kedua, setelah Republik Rakyat Tiongkok, untuk menyampaikan pidato. Bagi saya ini adalah pengakuan dari Pemerintah Rusia bahwa Indonesia memiliki peran yang penting dalam memerangi terorisme dan radikalisme.

Dalam konferensi ini, hampir seluruh negara yang hadir menekankan pentingnya kerja sama internasional dalam penanganan terorisme dan radikalisme. Serangan teroris yang terjadi di Paris dan Brussels menunjukkan bahwa tidak ada satu negarapun yang bisa mengklaim dirinya kebal dari serangan teroris. Hal ini ditambah lagi dengan fenomena ISIS yang dalam waktu singkat mampu menguasai wilayah teritorial yang cukup luas menembus batas-batas negara.

Ada dua poin utama dalam pidato saya. Pertama, saya menegaskan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan kedamaian. Agama Rahmatan Lil Alamin. Hal ini telah dibuktikan di Indonesia, dengan 230 juta lebih penduduk muslim, kami dapat hidup berdampingan dengan damai selama beratus-ratus tahun bersama dengan agama-agama lain di Indonesia. Oleh karena itu kelompok-kelompok teroris, seperti ISIS, yang berkoar-koar mengusung Islam sesungguhnya bukan Islam sama sekali. ISIS bukan Islam dan Islam bukanlah teroris. Di akhir konferensi, saya cukup terkejut karena delegasi beberapa negara menghampiri saya untuk menyampaikan apresiasi mereka atas pernyataan saya mengenai Islam adalah agama Rahmatan lil alamin

Ketika saya mencermati pidato-pidato yang disampaikan negara-negara lain,, ada yang cukup mengusik saya dari pernyataan-pernyataan yang mereka sampaikan. Sebagian besar mereka menekankan pendekatan hard approach dan intelijen dalam penanganan terorisme. Sebagian kecil, salah satunya dari perwakilan PBB, menyebutkan pentingnya kontra narasi untuk menangkal paham terorisme dan radikalisme, terutama yang saat ini menyebar lewat internet.

Bagi saya, pendekatan hard approach dan intelejen, tidak akan efektif jika tidak diimbangi dengan pendekatan soft approach, yang antara lain terdiri dari pendekatan kesejahteraan, agama, dan kultural. Kombinasi keduanya lah yang saya sebut dengan pendekatan holistik. Ini yang menjadi poin penting kedua dalam pidato saya.

Untuk menangkal terorisme dan radikalisme, kita harus mampu mengidentifikasi akar permasalahannya. Berdasarkan observasi dan penelitian yang dilakukan oleh tim kami di Kemenko Polhukam, salah satu akar permasalahan utamanya adalah ketidakadilan dan ketimpangan. Oleh karena itu, pendekatan soft approach menjadi penting untuk mengatasi akar permasalahan yang saya sebutkan sebelumnya.

Dana Desa adalah contoh pendekatan soft approach yang sudah diadopsi oleh pemerintahan Jokowi saat ini. Melalui Dana Desa, kegiatan ekonomi diharapkan dapat dibangun dari desa, melalui pembangunan infrastruktur dan pemberdayaan potensi ekonomi desa. Di Jawa Timur, masyarakat menggunakan dana desa ini untuk perbaikan jalan desa yang menghubungkan sawah dengan permukiman mereka, sehingga pengangkutan hasil tani bisa lebih efektif dan efisien. Tidak sedikit pula yang menggunakannya untuk perbaikan saluran irigasi tersier, sehinga panen bisa dilakukan lebih banyak.

Presiden Jokowi mengalokasikan dana sebesar Rp 590 trilyun dari 2015-2019 untuk program dana desa ini. Oleh karena itu, saya agak jengkel kalau ada pengamat-pengamat sok tau yang menghimbau Presiden Jokowi untuk tidak hanya berfokus soal pembangunan infrastruktur. Program dana desa ini menunjukkan keseriusan pemerintahan Jokowi dalam mengatasi permasalahan ketimpangan dan kemiskinan. Setidaknya pada tahun 2015, program ini sudah menunjukkan hasil yang baik, koefisien gini, yang menunjukkan tingkat ketimpangan pendapatan, turun dari 0.41 menjadi 0.40. Selama pemerintah konsisten dalam menjalankan program-program seperti dana desa ini, saya yakin angka ini akan turun lebih banyak dalam beberapa tahun mendatang.

Saya sendiri sebenarnya cukup surprise mengetahui bahwa pendekatan soft approach ini ternyata belum banyak dikenal dalam dunia internasional. Saya teringat dalam pertemuan dengan lembaga penelitian RAND di Los Angeles pada bulan April yang lalu. Salah satu penasehat RAND, yang merupakan seorang pensiunan jenderal mantan komandan armada pasifik dan atlantik angkatan laut amerika serikat, sangat tertarik dengan penjelasan mengenai soft approach ini. Rupanya negeri Paman Sam ini hanya mengenal hard approach. Tak heran Amerika Serikat terus menjadi salah satu sasaran utama terorisme

Sesuai dengan pesan dari Presiden Jokowi sebelum saya berangkat ke Grozny, saya memberikan penekanan, melalui pidato saya, kepada seluruh negara yang hadir dalam konferensi keamanan di Grozny ini bahwa kerja sama internasional untuk mengatasi permasalahan radikalisme dan terorisme tidak bisa semata mata hanya mengandalkan hard approach. Kerjasama internasional, terutama peran negara-negara maju, harus diarahkan kepada program-program pembangunan yang dapat menciptakan kesejahteraan dan mengurangi ketidakadilan serta ketimpangan di dunia ini. Inilah mengapa saya, sebagai menko polhukam, memiliki prinsip bahwa antara ekonomi dan keamanan adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Tanpa situasi yang aman akan sulit menjalankan pembangunan ekonomi, dan tanpa pembangunan ekonomi yang baik akan sulit menciptakan rasa aman. Dan disini, Grozny menjadi bukti.