Gagasan

Diversifikasi Ekonomi Lewat Industri Wisata Medis

Dibaca: 47 Oleh 01 Sep 2020Tidak ada komentar
Diversifikasi Ekonomi Lewat Industri Wisata Medis
#LuhutPandjaitan #LBP

Beberapa waktu yang lalu saya diberitahu soal analisa dari PwC di tahun 2015 yang menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara asal wisatawan medis dengan jumlah 600.000 orang, terbesar di dunia mengalahkan Amerika Serikat dengan 500.000 orang wisatawan medis di tahun yang sama. Dan secara umum, saya melihat bahwa mereka memilih perawatan medis ke luar negeri dengan alasan kurang mempunyai layanan medis domestik untuk menyembuhkan penyakit-penyakit khusus. Atas dasar beberapa hal tersebut, maka hari ini saya bersama jajaran K/L terkait duduk bersama untuk berkoordinasi tentang rencana pengembangan wisata medis di Indonesia.

Rencana ini dikaji karena berbagai pertimbangan, diantaranya adalah fakta bahwa bahwa rata-rata pengeluaran wisatawan medis sebesar USD 3,000 – 10,000 per orang. Sementara masyarakat kita lebih senang berobat ke Penang dan Singapura karena merasa disana layanan kesehatannya terhitung murah dan lebih cepat sembuh. Kemudian jumlah wisata medis secara global juga mengalami kenaikan dari tahun ke tahun,. Ada satu cerita yang saya dengar yaitu pengalaman seorang dokter mata bahwa banyak pasien yang biasa berobat ke Singapura sekarang berobat ke Indonesia karena mereka kurang nyaman dengan adanya karantina. Melihat fakta-fakta di atas, saya kira pengembangan wisata medis di Indonesia menjadi sangat realistis, dan saya rasa perlu kita bangun “trust” guna menumbuhkan rasa percaya wisatawan medis ke Indonesia, dan yang paling penting bagi saya adalah lewat industri wisata medis ini, kita mampu melakukan diversifikasi ekonomi, menarik investasi luar negeri, penyediaan lapangan pekerjaan, pembangunan industri layanan kesehatan di Indonesia, serta menahan laju layanan kesehatan serta devisa kita agar tidak mengalir ke negara-negara yang lebih sejahtera. Apalagi dengan adanya potensi besar dari “Wellness & Herbal Tourism” berupa 30,000 spesies tanaman herbal di Indonesia, juga akan kita kembangkan untuk menarik wisatawan mancanegara datang dan membelanjakan uangnya di sektor wisata kebugaran dan herbal di Indonesia.

Baca juga:  Nelson Mandela dan Forgive Not Forget

Untuk mendukung industri wisata medis ini, saya rasa perlu adanya dukungan dari pemerintah melalui promosi masif serta fasilitas-fasilitas penunjang lainnya, seperti membangun rumah sakit internasional. dan mendatangkan dokter spesialis dari luar negeri sehingga kualitas dan tarif layanan medis kita bisa sebanding dengan negara-negara yang lebih dulu melakukan hal ini, bahkan tidak menutup kemungkinan lebih baik dari keduanya. Saya ingin Rumah Sakit berstandar internasional seperti John Hopkins yang berada di Amerika Serikat, ada cabang nya di Indonesia. Maka dari itu, saya meminta kepada BKPM untuk dapat mencari investor potensial guna membangun rumah sakit berkelas internasional di Jakarta, Bali, dan Medan. Untuk keahlian spesialis tertentu kita akan pertimbangkan ijin untuk dokter asing, namun harus sesuai kebutuhan. Mereka tidak hanya sekedar datang, tetapi sambil berkolaborasi dengan para dokter dan tenaga medis lokal sehingga nantinya Rumah Sakit menjadi “teaching hospital” dan mereka harus diasistensi selalu oleh dokter-dokter spesialis dari Indonesia. Saya juga mengusulkan kepada K/L terkait untuk mengkaji peraturan yang memungkinkan dokter asing bekerja di Indonesia dengan mempertimbangkan komposisi dan durasi izin bekerja, serta nilai tambahnya. Saya berharap momentum krisis pandemi ini bisa betul-betul kita manfaatkan untuk membenahi infrastruktur, fasilitas penunjang, serta regulasi layanan kesehatan di Indonesia agar bisa lebih baik lagi dengan menciptakan perencanaan yang bagus dan terpadu untuk industri wisata medis dalam negeri.

Baca juga:  Mewujudkan Mimpi Beroperasinya Bandara Dhoho Kediri

Terkait

Author Tim Media LBP

More posts by Tim Media LBP
Made with passion by Vicky Ezra Imanuel