Gagasan

Bersiap Menghadapi Era Kebangkitan Industri di Indonesia

Dibaca: 6 Oleh 04 Jun 2020Tidak ada komentar
Bersiap Menghadapi Era Kebangkitan Industri di Indonesia
#LuhutPandjaitan #LBP

Seringkali ketika saya berbincang dengan teman-teman investor baik dari dalam maupun luar negeri, saya sampaikan bahwa Indonesia adalah negara yang terbuka terhadap kerja sama dengan siapa saja. Hal ini sesuai dengan prinsip Politik Bebas Aktif yang sesuai dengan amanat Pembukaan UUD’45. Namun saya juga selalu menegaskan kepada mereka calon investor untuk kewajiban memenuhi syarat yang ditetapkan pemerintah Indonesia, salah satunya adalah kewajiban untuk transfer teknologi.

Tanpa banyak kita sadari selama 4 tahun di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo, sebenarnya kita sudah mulai membangun industri yang punya nilai tambah seperti di Morowali, Konawe dan Weda Bay. Industri yang terintegrasi mulai dari nikel sampai turunannya sudah mulai dilakukan. Bahkan lewat proses daur ulang, kandungan kobalt dari baterai bekas masih dapat dimanfaatkan. Dengan 99,3% komponen yang dapat didaur ulang, ke depan masih dapat dikembangkan hingga menjadi “zero waste”. Pengembangan industri nilai tambah seperti inilah yang diharapkan dapat berkontribusi memulihkan perekonomian negara dengan mengatasi permasalahan Current Account Deficit (CAD) kita secara cepat. Dalam hal investasi, seperti yang kami selalu tekankan bahwa kita pun membuka diri untuk bekerja sama dengan semua negara yang ingin kerja sama dengan Indonesia sebagai pemilik raw material.

Baca juga:  Mengenang Cak Nur Dan Gus Dur

Salah satu sektor yang menjadi fokus pemerintah dalam skenario pemulihan ekonomi di Indonesia pasca pandemi Covid-19 adalah hilirisasi minerba. Namun, setelah mendengar beberapa paparan dari para akademisi dan peneliti, saya melihat ada tantangan dalam mengembangkan industri hilirisasi yang dihadapi Indonesia, yaitu kurangnya tenaga kerja lulusan Sarjana dan Diploma dalam bidang Teknik. Perlu semua ketahui bahwa menurut data dari Kementerian Ristek Dikti yang dipaparkan dalam kesempatan Rakor terkait Hilirisasi Industri Logam dan Pengembangan Sumber Daya Alam kemarin bersama lintas Kementerian dan Perguruan Tinggi terkait, pada tahun 2025 Indonesia diproyeksi akan membutuhkan 276.298 lulusan Sarjana Teknik dan 458.876 Lulusan Vokasi Teknik. Sedangkan ketersediaan untuk S1 diproyeksi hanya berjumlah 27.721 dan D3 5.634 orang. Artinya akan ada kekurangan tenaga S1 Teknik sebesar 248.577 dan D3 Teknik 453.243 pada tahun 2025. Dan menurut data BPS pada tahun 2019, mayoritas tenaga kerja di Indonesia berpendidikan SD ke bawah dengan jumlah sebesar 52,4 juta orang. Berikutnya adalah lulusan pendidikan SMA dengan 23,1 juta orang, SMP 22,9 juta orang, lalu SMK 14,6 juta orang, kemudian baru Sarjana dengan 12,61 juta dan Diploma I/II/III dengan 3,6 juta orang.

Baca juga:  Teknologi Kelas Satu untuk Indonesia Maju

Melihat data yang disampaikan oleh para akademisi ini, saya berpikir bahwa ini adalah tantangan serius bagi pemerintah yang tengah gencar melakukan hilirisasi industri minerba. Padahal, industri hilirisasi membutuhkan lulusan sarjana dan vokasi teknik dalam jumlah yang sangat besar. Untuk itulah saya ingin semua pihak untuk fokus menyiapkan program pengembangan SDM untuk kebutuhan industri yang terintegrasi. Harus ada koordinasi yang solid antara Kemendikbud, Kemenperin, Kemenaker serta Kementerian dan Lembaga terkait lainnya untuk merumuskan kebijakan dan program pengembangan studi serta kurikulum pendidikan vokasi khususnya terkait Industri logam. Karena saya belajar dari pengalaman saya mendirikan Institut Teknologi DEL bersama istri saya dahulu, membangun sebuah institusi pendidikan tidaklah mudah, butuh dukungan yang nyata tak hanya dari pemerintah tetapi juga kerjasama dengan pihak swasta.

Sebagai bagian dari pemerintahan Presiden Joko Widodo, saya ingin pengembangan SDM Indonesia ini menjadi misi besar saya dalam menjemput kesempatan emas yaitu mempersiapkan generasi-generasi muda kita untuk mendapatkan bekal ilmu dan pengetahuan yang mewujud menjadi bekal keahlian mereka sehingga mereka nantinya dapat mendapatkan pekerjaan dan siap menerima transfer teknologi sesuai syarat yang selalu saya sampaikan kepada para investor. Kepada semua Kementerian/Lembaga, saya berharap ada kepaduan dalam merumuskan kebijakan ini. Tidak bisa ada satu sektor yang merasa dirinya yang paling mengatur karena yang harus dikedepankan adalah kepentingan nasional. Jadi tidak bisa hanya bermuara pada kepentingan sektoral. Demi masa depan terbaik generasi penerus Ibu Pertiwi serta tanda keberlanjutan era kebangkitan Industri di Indonesia.

Baca juga:  "Tanah Kebanggaan", Tanah Toba

Author Tim Media LBP

More posts by Tim Media LBP
Made with passion by Vicky Ezra Imanuel